Jumat, 11 Februari 2022
20 Ciri Sukses dan Gagal Ramadhan
Diposting oleh Administrator Jam 15.36.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Ramadhan Segera Tiba, Seberapa Besar “Wadah” yang Anda Siapkan? (Re-post)
Diposting oleh Administrator Jam 14.27.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Kamis, 27 September 2007
Suka-Duka Berpuasa di Negeri Non-Muslim
Berpuasa di negara yang penduduknya bukan mayoritas Muslim tidak gampang. Yang lebih sulit lagi adalah berpuasa di musim panas di negara yang mengenal 4 musim. Karena waktu siangnya panjang, maka jam berpuasanya lebih lama. Namun sebaliknya di musim dingin puasanya singkat. Itulah pengalaman dua orang warga Indonesia di perantuan, Herianti Novita di Islandia dan Siti Muawanah di Hongkong.
Herianti Novita sudah hampir 7 tahun tinggal di Rekyavik, ibu kota Islandia. Menurut pengalamannya, berpuasa di negeri dekat kutub itu tidak terlalu susah. Maklum dia belum pernah berpuasa di musim panas. Di musim panas, hari-harinya sangat panjang. "Siangnya itu hampir 24 jam," jelasnya. Tapi kalau di musim dingin seperti di bulan-bulan November, Desember dan Januari puasanya singkat. "Apalagi di bulan Desember, jam 4 sore kita sudah berbuka, "tandasnya.
Berpuasa terutama juga ringan bagi orang-orang yang pekerjaannya tidak berat. Bagi mereka yang bekerja misalnya di pabrik roti cukup berat juga untuk berpuasa. Bagi Novita yang sekarang sekolah, puasa juga tidak berat. "Saya bilang ringan karena saya masih di sekolah. Saya masih belajar, "tuturnya. Novita mengikuti program pendidikan buat para ibu yang tidak bersuami. Pendidikan ini difasilitasi oleh pemerintah Islandia. Untuk mengetahui jam berbuka puasa dan imsak mereka mendapat jadwal dari Asosiasi Muslim di Rekyavik.
Acara berbuka bersama antar orang Indonesia tidak sering diselenggarakan. Beberapa tahun lalu mereka pernah menggelar acara berbuka bersama dengan mengundang dubes RI di Norwegia Tarmizi Taher. Pada saat Idulfitri pasti ada acara kumpul-kumpul. "Tapi biasa kita kalau kumpul-kumpul seperti itu pas di Idulfitri saja, "katanya.
Makanan Halal dan Asia
Makanan halal tidak sulit untuk mendapatkannya di Islandia. Di sana ada sebuah perusahaan yang bernama SS. Atas permintaan, perusahaan ini bisa menyelenggarakan penyembelihan halal. "Dia bisa motong untuk halal, "tuturnya. Untuk membikin makanan khas bulan puasa di Indonesia seperti kolak juga gampang di Islandia. Sejak tahun-tahun terakhir banyak bermunculan toko-toko Asia. "Mereka antara lain menjual pisang, labu, singkong, ubi dan lain-lain, "jelasnya. Selain itu di supermarket biasa di Islandia sudah dibeli produk-produk Asia.
Berbeda dengan Novita, Siti Muawanah, seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong, menilai berpuasa di Hongkong tidak gampang. Karena banyak majikan khawatir, pembantunya yang berpuasa bisa pingsan. Para majikan khawatir pembantu yang menjaga anak mereka pingsan pada saat para majikan sedang berada di tempat kerja. Kendati demkian, menurut Siti, para majikan itu bukan anti Islam. Mereka malah memberi kebebasan menjalankan ibadah dan mematuhi ajaran agama Islam.
"Kayak kita orang Islam tidak boleh makan babi, itu mereka mengerti, "tambah Siti. Perempuan asal Blitar ini juga menjelaskan, majikannya sendiri mengizinkan dia berpuasa. Tapi ada syaratnya. "Asal kita tahu diri dan tidak menganggu pekerjaan, "tambahnya.
Hari Semakin Pendek
Menurut muslimah Indonesia yang sudah hampir 12 tahun tinggal di Hongkong ini, jam imsak di sana lebih lambat dibanding di Indonesia. "Pertama kali kemarin itu jam 4.53, "katanya menjelaskan imsak di hari pertama Ramadan ini.
Saat berbuka puasa juga semakin cepat. Ini berarti semakin memasuki musim dingin, semakin pendek hari. Dengan demikian semakin singkat pula jam berpuasa. "Semakin pendek. (Tiap hari, red) Berkurang satu menit, "simpul Siti. Di Hongkong bahan untuk membuat makanan Indonesia sangat mudah didapat. Hampir semua makanan Indonesia termasuk juga yang khas Ramadhan seprti kolak dan lain-lain bisa dibikin di sana. Namun berbuka bersama dan sholat taraweh berjamaah sulit diselenggarakan di sana. Maklum kondisi pekerjaan tidak mengizinkan. "Soalnya kita sebagai TKW di sini kalau malam, selain untuk urusan kerja, nggak boleh keluar, "kata Siti.
Tidak Ada Suasana Ramadan
Berpuasa di negara yang non Islam berarti berpuasa di lingkungan orang yang tidak berpuasa. Orang-orang di sekeliling tidak berpuasa. Restoran-restoran di siang hari tetap buka. Jadi, di luar tidak ada suasana Ramadhan. "Jadi di sini suasana Ramadhan itu ada di sekitar kita sendiri atau pada diri kita sendiri, "jelas Siti. Siti menyimpulkan bahwa godaan berpuasa di Hongkong berat sekali. Oleh karena itu banyak juga muslim Indonesia di sana yang tidak berpuasa.
Baik Novita maupun Siti Muawanah menyatakan keduanya terharu kalau merayakan Idul Fitri. "Tiap kita sholat Id kita terharu. Pasti nangis, "kata Novita. Siti Muawanah juga merasa sedih kalau lagi makan saur. "Teringat di rumah. Biasa makan rame-rame sambil ngantuk, "tutur Siti. www.hidayatullah.com
Diposting oleh Administrator Jam 09.30.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Senin, 24 September 2007
14 Alasan Merindukan Ramadhan
1. Gelar Taqwa
Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah. Tidak ada gelar yang lebih mulia dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu. "Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (QS al-Baqarah : 183).
Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:
a. Jalan keluar dari semua masalah. Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah pemilik kehidupan ini. "... Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. Ath Thalaaq: 2). "... Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. Ath Thalaaq : 4).
b. Dicukupi kebutuhannya. "Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...." (QS. Ath Thalaaq : 3).
c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati. Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah. Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan. "Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. al-A'raaf : 35).
2. Bulan Pengampunan
Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan bernjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan. Beberapa hadits menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud, "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni."
3. Pahalanya Dilipatgandakan
Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, "Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap satu kebaikan sepuluh lipat gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya." (HR. Bukhari Muslim).
Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakana amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.
4. Pintu Surga Dibuka dan Neraka Ditutup
"Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu." (HR. Muslim). Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan yang dilakukan, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi. Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia.
5. Ibadah Iistimewa
Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadits qudsinya, "Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku." (HR. Bukhari Muslim).
Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa. Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.
Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan. Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur'an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.
Allah SWT setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam kesibukan.
Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari saja.
6. Dicintai Allah
Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadits Qudsi, "Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya." (HR. Bukhari).
7. Do'a Dikabulkan
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo'a apabila dia berdo'a, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku." (QS. al-Baqarah : 186).
Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo'a tapi sebenarnya tidak berdo'a. Yaitu do'anya orang-orang yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? "Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku."
Benar, berdo'a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan Nabi SAW, "Tiga do'a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do'anya orang teraniaya. Allah mengangkat do'anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. "Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang." (HR Ahmad dan Tirmidzi).
Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kesucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan pengabulan do'a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo'a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh itu bisa mengantarkan do'anya dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa'nya?
Jadi do'a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do'a.
8. Turunnya Lailatul Qodar
Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan. (QS. al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur'an diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu.
Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam Lailatul Qodar itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad, "Lailatul Qadar adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluh terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir malam Ramadhan. "Barangsiapa mengerjakan qiyamullail (shalat malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya yang lampau atau yang akan datang."
Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar.
Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur'an menyatakan, "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat JIbril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan/kedamaian sampai terbit fajar. (QS al-Qadr : 4 - 5).
Malaikat bersifat ghaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh menggambarkan, "Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, 'Ambil barang itu!' Ada bisikan lain berkata, 'Jangan ambil, itu bukan milikmu!' Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat." Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.
9. Meningkatkan Kesehatan
Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.
Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.
Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.
Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.
10. Penuh Harapan
Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu buka, wah... rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya' Allah, menjadikan hidup lebih bermakna. "Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya." (HR. Bukhari).
11. Masuk Surga Melalui Pintu Khusus, Rayyaan
"Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut Rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup." (HR. Bukhari).
Minum air telaganya Rasulullah SAW: "Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka (para sahabat) berkata, 'Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.' Beliau berkata, 'Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu... Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telaga dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi).
12. Berkumpul Dengan Sanak Keluarga
Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman.
Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain. Padahal silahturahim itu dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadits, "Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi!" (HR. Bukhari).
13. Qaulan Tsaqiilaa
Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur'an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS. Al-Muzzammil : 3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan tarawih pada awal malam setelah shalat Isya' dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih. Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya.
Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur'an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas dan mendalam, karena al-Qur'an memang sumber pengetahuan dan ilham.
Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian mengaruniai Qaulan Tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.
14. Hartanya tersucikan
Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat. Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya.
Zakat, disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaksejahteraan. *Kotasantri.com
Diposting oleh Administrator Jam 10.13.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Minggu, 23 September 2007
Amalan Sunah di bulan Ramadhan
1. Makan sahur dengan mengakhirkannya
Para ulama telah sepakat tentang sunnahnya sahur untuk puasa. Meski demiian, tanpa sahur pun puasa tetap boleh.
تسحروا فإن في السَّحور بركة
Dari Anas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Makan Sahurlah, karena sahur itu barakah”. (HR Bukhori 1923 dan Muslim 1095).
Dasarnya lainnya adalah hadits berikut ini dengan sanad jayyid.
Dari al-Miqdam bin Ma‘dikarb dari Nabi SAW. Bersabda, Hendaklah kamu makan sahur karena sahur itu makanan yang diberkati.(HR An-Nasa‘i: 4/146).
Makan sahur itu menjadi barakah karena salah satunya berfungsi untuk mempersiapkan tubuh yang tidak akan menerima makan dan minum sehari penuh.
Selain itu, meski secara langsung tidak berkaitan dengan penguatan tubuh, tetapi sahur itu tetap sunnah dan mengandung keberkahan. Misalnya buat mereka yang terlambat bangun hingga mendekati waktu subuh. Tidak tersisa waktu kecuali beberapa menit saja. Maka tetap disunahkan sahur meski hanya dengan segelas air putih saja. Karena dalam sahur itu ada barakah.
السحور بركة، فلا تدَعوه، ولو أن يجرع أحدكم جرعة ماء، فإن الله وملائكته يصلون على المتسحرين
Dari Abi Said al-Khudri RA. “ Sahur itu barakah maka jangan tinggalkan meski hanya dengan seteguk air. Sesungguhnya alah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang sahur. (HR Ahmad: 3:12)
Disunahkan untuk mengakhirkan makan sahur hingga mendekati waktu shubuh.
لا تزال أمتي بخير ما عجلوا الفطر وأخروا السحور
Dari Abu Zar Al-Ghifari ra. dengan riwayat marfu`, ”Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan buka puasa dan mengakhirkan sahur.(HR Ahmad: 1/547)”
Di dalam sanad hadits ini adalah Sulaiman bin Abi Utsman yang majhul.
2. Berbuka dengan menyegerakannya
Disunnahkan dalam berbuka puasa untuk menta‘jil atau menyegerakan berbuka sebelum shalat Maghrib. Meski hanya dengan seteguk air atau sebutir kurma.
لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر حَسَا حَسَوات من ماء
Dari Sahl bin Saad bahwa Nabi SAW bersabda, ”Umatku masih dalam kebaikan selama mendahulukan berbuka.”(HR Bukhari 1957 dan Muslim 1058)
كان رسول الله صلّى الله عليه وسلم يفطر على رُطَبات قبل أن يصلي، فإن لم تكن رطبات فتَمَرات، فإن لم تكن تمرات
Dari Anas RA. Berkata bahwa Rasulullah SAW berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat. Bila tidak ada maka dengan kurma. Bila tidak ada maka dengan minum air. (HR Abu Daud, Hakim dan Tirmizy)
3. Berdoa ketika berbuka
Disunnahkan membaca do‘a yang ma‘tsur dari Rasulullah SAW ketika berbuka puasa. Karena do‘a orang yang puasa dan berbuka termasuk doa yang tidak tertolak.
للصائم عند فطره دعوة لاتُرد
Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Bagi orang yang berpuasa ketika sedang berbuka ada doa yang tak akan ditolak.. (HR Tirmidzy)
Sedangkan teks doa yang diajarkan Rasulullah SAW antara lain
اللهم إني لك صمت، وعلى رزقك أفطرت، وعليك توكلت، وبك آمنت،
Ya Allah, kepada Engkaulah aku berpuasa dan dengan rizki dari-Mu aku berbuka". Doa ini didasarkan oleh sebuah hadits mursal riwayat Abu Daud dan Al-Baihaqy.
ذهب الظمأ، وابتلت العروق، وثبت الأجر إن شاء الله تعالى
“Telah hilang haus dan telah basah tenggorakan dan telah pasti balasan Insya Allah.”
Lafaz doa ini didasarkan atas hadits Abu Daud 2358 dan An-Nasa`i 3329 serta Al-Hakim: 1/422)
4. Memberi makan orang berbuka
Memberi makan saat berbuka bagi orang yang berpuasa sangat dianjurkan karena balasannya sangat besar sebesar pahala orang yang diberi makan itu tanpa dikurangi. Bahkan meski hanya mampu memberi sabutir kurma atau seteguk air putih saja. Tapi lebih utama bila dapat memberi makanan yang cuup dan bisa mengenyangkan perutnya.Sabda Rasulullah SAW:
من فطَّر صائماً كان له مثل أجره، غير أنه لا ينقُص من أجر الصائم شيء
Siapa yang memberi makan (saat berbuka) untuk orang yang puasa, maka dia mendapat pahala seperti pahala orang yang diberi makannya itu tanpa dikurangi sedikitpun dari pahalanya. (HR At-Tirmizy, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaemah).
5. Mandi
Disunnahkan untuk mandi baik dari janabah, haidh atau nifas sebelum masuk waktu fajar. Agar berada dalam kondisi suci saat melakukan puasa dan terlepas dari khilaf Abu Hurairah yang mengatakan bahwa orang yang berhadats besar tidak syah puasanya.
من أصبح جنباً فلا صوم له
Orang yang masuk waktu shubuh dalam keadaan junub, maka puasanya tidak sah (HR Bukhari)
Meski demikian, menurut jumhur ulama apabila seseorang sedang mengalami junub dan belum sempat mandi, padahal waktu subuh sudah masuk, maka puasanya syah. Namun hadit ini ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan junub adalah seseorang meneruskan jima' setelah masuk waktu shubuh.
كان النبي صلّى الله عليه وسلم يصبح جنباً من جماع، غير احتلام، ثم يغتسل، ويصوم
Adalah Rasulullah SAW pernah masuk waktu subuh dalam keadaan junub karena jima‘ bukan karena mimpi, kemudian beliau mandi dan berpuasa.(HR Muttafaq 'alaihi)
6. Menjaga lidah dan anggota tubuh
Disunnahkan untuk meninggalkan semua perkataan kotor dan keji serta perkataan yang membawa kepada kefasikan dan kejahatan. Termasuk di dalamnya adalah ghibah (bergunjing), namimah (menagdu domba), dusta dan kebohongan. Meski tidak sampai membatalkan puasanya, namun pahalanya hilang di sisi Allah SWT. Sedangkan perbuatan itu sendiri hukumnya haram baik dalam bulan Ramadhan atau di luar Ramadhan.
من لم يدع قول الزور والعمل به، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang tidak meninggalkan perkataan kotor dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh dia untuk meninggalkan makan minumnya (puasanya). (HR Bukhari, Abu Daud, At-Tirmizy, An-Nasai, Ibnu Majah)
Apabila kamu berpuasa, maka jangan berkata keji dan kotor. Bila ada orang mencacinya atau memeranginya, maka hendaklah dia berkata, ”Sungguh aku sedang puasa.”
إذا كان يوم صوم أحدكم، فلا يرفث ولا يصخب، فإن شاتمه أحد أو قاتله، فليقل: إني صائم
Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Janganlah kamu melakukan rafats dan khashb pada saat berpuasa. Bila orang mencacinya atau memeranginya, maka hendaklah dia berkata, "Aku sedang puasa." (HR Bukhari dan Muslim)
Namun menurut para ulama, mengatakan aku sedang puasa lebih tepat bila dilakukan bila saat itu sedang puasa Ramadhan yang hukumya wajib. Tetapi bila saat itu sedang puasa sunnah, maka tidak perlu mengatakan sedang puasa agar tidak menjadi riya‘. Karena itu cukup dia menahan diri dan mengatakannya dalam hati.
7. Meninggalkan nafsu dan syahwat
Ada nafsu dan syahawat tertentu yang tidak sampai membatalkan puasa, seperti menikmati wewangian, melihat sesuatu yang menyenangkan dan halal, mendengarkan dan meraba. Meski pada dasarnya tidak membatalkan puasa selama dalam koridor syar‘i, namun disunnahkan untuk meninggalkannya.
Seperti bercumbu antara suami isteri selama tidak keluar mani atau tidak melakukan hubungan seksual, sesungguhnya tidak membatalkan puasa. Tetapi sebaiknya hal itu ditinggalkan untuk mendapatkan keutamaan puasa.
8. Memperbanyak shadaqah
Termasuk di antaranya adalah memberi keluasan belanja pada keluarga, berbuat ihsan kepada famili dan kerabat serta memperbanyak shadaqah. Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus dalam kebajikan. Dan menjadi paling baik saat bulan Ramadhan ketika Jibril as. mendatanginya.
أنه صلّى الله عليه وسلم كان أجود الناس بالخير، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل
Adalah Rasulullah SAW orang yang sangat murah dengan sumbangan. Dan saat beliau paling bermurah adalah di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. (HR Bukhari dan Muslim)
Adapun hikmah yang bisa di dapat dari perbuatan ini adalah membesarkan hati kaum muslimin serta memberikan kegembiraan pada mereka sebagai dorongan untuk beribadah kepada Allah SWT.
9. Menyibukkan diri dengan ilmu dan tilawah
Disunnahkan untuk memperbanyak mendalami ilmu serta membaca Al-Quran, shalawat pada Nabi dan zikir-zikir baik pada siang hari atau malam hari puasa, tergantung luangnya waktu untuk melakukannya. Dasarnya adalah hadits shahih berikut ini:
كان جبريل يلقى النبي صلّى الله عليه وسلم في كل ليلة من رمضان، فيدارسه القرآن
Jibril as. mendatangi Rasulullah SAW pada tiap malam bulan Ramadhan dan mengajarkannya Al-Qur’an.(HR Bukhari dan Muslim)
10. Beri‘tikaf
Disunnahkan untuk beri‘tikaf terutama pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Salah satunya untuk mendapatkan pahala lailatul qadar yang menurut Rasulullah SAW ada pada malam-malam 10 terakhir bulan Ramadhan.
قالت عائشة: كان النبي صلّى الله عليه وسلم إذا دخل العشر الأواخر أحيا الليل، وأيقظ أهله، وشد المئزر
Aisyah RA berkata, ”Bila telah memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan, Nabi SAW menghidupkan malam, membangunkan keluarganya (isterinya) dan meninggalkan isterinya (tidak berhubungan suami isteri).(HR Bukhari dan Muslim)
Juga disunnahkan untuk membaca pada lailatul qadar doa berikut:
Ya Allah, Sungguh Engkau mencintai maaf maka maafkanlah aku.
11. Shalat Tarawih, Tahajjud dan Witir
Selain ibadah di atas, tentunya yang sangat penting dan jangan sampai terlewat adalah shalat tarawih, tahajjud, witir dan lainnya. Namun khusus tentang shalat tarawih ini rasanya kami sudah beberapa kali mengangkatnya di halaman ini. Silahkan browsing di eramuslim untuk mendapatkan informasi tentang shalat tarawih.
Demikian, semoga pandungan sederhana ini bisa mendorong kita untuk meraih keutamaan Ramadhan yang belum tentu di tahun depan kita masih diberi umur oleh Allah SWT.
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
*Ahmad Sarwat, Lc Pengasuh konsultasi Ustad Menjawab eramuslim.com
Diposting oleh Administrator Jam 06.07.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Sabtu, 22 September 2007
Denda Rp.50 ribu Bagi yang tidak berpuasa
Sebagaimana dikutip Straits Times, (17/9) kemarin, bahwa pemerintahan setempat telah mengangkat puluhan petugas berseragam sipil yang bertanggung jawab mengawasi kedai-kedai dan rumah makan.
Azman Muhammad Dahim, juru bicara pemerintahan Kota Baru, Ibu Kota negeri Kelantan mengatakan,”Ini adalah hal baru yang pernah dilakukan, sebagai respon dari keluhan masyarakat yang tidak nyaman dengan adanya orang-orang yang terang-terangan “berbuka puasa” di siang hari selama bulan Ramadan”.
Straits Times juga menyebutkan, bagi mereka yang tertangkap basah tidak berpuasa terang-terangan diwajibkan membayar denda sebesar 20 ringgit (sekitar 50.000 rupiah), dan bagi rumah makan yang ikut membantu menyediakan makanan bagi mereka yang tidak berpuasa diwajibkan membayar denda sebesar 500 ringgit (sekitar 1,3 juta rupiah). www.hidayatullah.com
Diposting oleh Administrator Jam 05.28.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Selasa, 18 September 2007
Puasanya Ular Vs Ulat
Yang satu pertapa model ular dan yang satu lagi model ulat. Cobalah perhatikan filosofis gambran bertapanya mahluk Allah ini.
Puasa Model Ular
Ia berpuasa menahan makan dan minum, hari–harinya pun full terisi dengan tidur dan dengkur, selesai berpuasa sang ular pun menjadi ular yang baru, pakaiannya berganti.
Namun ular tetaplah ular sebelum berpuasa dan sesudah berpuasa tetap sama. Ia adalah binatang yang bercabang dua lidahnya, dengan gigi-gigi yang bertaring, dan sebagian besar orang jijik dan takut dengannya, makanannya pun sama seperti ketika ia belum bertapa yaitu daging atau binatang hidup yang lain, cara dia berpindah tempatpun sama yaitu dengan menjalar, dan sifat-sifat yang lain tetap melekat dan disandangnya sama seperti saat dia sebelum berubah atau berpuasa, jadi hanya berubah pakiannya saja yang lebih muda atau baru.
Puasa Model Ulat
Ulat adalah binatang yang menjijikan untuk sebagian orang, terkadang bulu-bulunyua membuat gatal-gatal kulit orang yang menyentuhnya, cara ia berjalan sangat lambat, makanannya daun-daun atau tumbuh-tumbuhan yang terkadang itu adalah tanaman para petani yang tentu sifatnya merusak, dan perdikat buruk lain yang disandang oleh sang ulat.
Namun tibalah saatnya ia harus menebus semua dosa dan kesalahnnya selama ini, sehingga ia bertaubat dengan tidak makan dan munum (berpuasa). Puasanya unik, tubuhnya terbalik, seluruh tubuhnya ditutupi pembalut, ia pun meninggalkan makan dan minum. Disamping itu saat puasa ia asyik berdzikir sehingga waktunya menjadi barokah. Sebelum puasa ulat makan apa saja, tampilannya menjijikkan, tubuhnya mengerikan, bulu–bulunya membuat gatal, jalannya lambat.
Saat puasa ia menimbulkan simpati, banyak orang tertarik mengikuti alunan dzikirnya, puasanya lebih bermakna. Setelah berpuasa berubahlah ia menjadi binatang yang manis menawan hati, Keindahannya dirindukan, terbangnya dinantikan, memberikan manfaat bagi tumbuh-tumbuhan dalam proses pembuahan, makanannya sari-sari bunga, bergerak lebih lincah dengan kepakan sayapnya, warna-warni yang indah dan sifat-sifat lain yang dimilikinya.
Itulah ibrah bagi kita, mari kita belajar menata diri seperti sang ulat melewati hari–harinya penuh dzikir, akhirnya lahir menjadi pribadi baru mukmin sejati.
Barangkali ini Ramadhan terakhir kita, jangan sampai hadir tanpa makna dan pergi tanpa kesan. Semoga Ramadhan benar–benar memberi ruh baru bagi proses tarbiyah diri kita dan dapat menghasilkan pribadi yang benar–benar mempesona, bermanfaat dan dirindukan kehadirannya.
Diposting oleh Administrator Jam 06.10.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Rabu, 12 September 2007
Lambaian Perpisahan
Sebuah lambaian perpisahan telah datang dari Rasul tercinta, yang dicintai para sahabat dan ummatnya, sementara ia sendiri juga mencintai mereka. Tetapi tidak semua orang mengerti dan memahaminya isyarat perpisahan itu. Bahkan hingga beberapa bulan kemudian, masih saja tanda-tanda itu belum dirasakan kebanyakan sahabat. Meski pada waktu haji wada’ Rasul mengatakan, “Aku tidak tahu pasti, boleh jadi aku tidak akan bisa bertemu kalian lagi setelah tahun ini dengan keadaan seperti ini.”
Bahkan hingga lima hari sebelum wafatnya di bulan Rabiul Awal, saat ia menyampaikan beberapa nasihat panjangnya. Ketika di ujung nasihatnya Rasul berkata, “Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia menurut kehendaknya ataukah apa yang ada di sisi-Nya. Ternyata hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya.”
Saat itu Abu Bakar menangis sambil berkata, “Demi ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu.” Para sahabat heran. Orang-orang berkata, “Lihatlah orang tua ini, Rasulullah SAW mengabarkan tentang seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia menurut kehendaknya atau apakah yang ada di sisi-Nya, lalu dia berkata, ‘Demi ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu.”
Akhirnya setelah Abu Bakar menjelaskan bahwa yang dimaksud hamba itu tak lain adalah Rasulullah, barulah para sahabat yang lain menyadari, bahwa detik-detik perpisahan dengan Rasulullah tiba-tiba hadir di kehidupan nyata mereka. Sesuatu yang nyaris tak pernah mereka bayangkan. Bahwa suatu hari kelak mereka akan berpisah dengan Rasul tercinta.
Begitulah, setiap kita punya tambatan cinta yang berbeda-beda. Pada sisi keimanan, tentu semestinya cinta itu tertambat kepada Allah, Rasul-Nya, juga ajaran-ajaran agama-Nya. Pada sisi kemanusiaan, kita boleh menambatkan cinta itu kepada apa dan siapa saja yang halal dan mubah.
Meski kita mengerti bahwa cinta kemanusiaan kita tidak boleh melanggar cinta keyakinan kita, tetapi tetap saja ada duka dan sedih untuk setiap perpisahan dengan apa dan siapa saja yang kita cintai. Tetap saja ada tangis untuk setiap kehilangan orang-orang atau apa saja yang kita cintai.
Maka, yang tak mencintai apa-apa tak akan pernah merasakan kehilangan apa-apa. Disinilah masalahnya. Orang-orang yang merasa hopeless atau yang menjalani hidup ini dengan tanpa tambatan cinta, akan melewati segala perjumpaan dan perpisahan dengan tanpa makna apa-apa. Tak ada susah, tak ada pula senang.
Tapi seburuk-buruk orang yang tak punya tambatan cinta, adalah mereka yang tak pernah mengerti arti karunia Allah yang diberikan kepadanya. Sebab cinta adalah kumpulan segala kemampuan kita untuk menghargai. Ada berjuta karunia dan kemurahan Allah yang diberikan kepada kita. Ada usia, nafas, tinggi-tegak badan yang segar, pikiran yang waras, uang yang datang dari lorong keringat dan jerih payah, anak dan kelarga, serta alam dengan segala kekayaannya. Semua itu seharusnya menjadi lautan inspirasi bagi kita untuk memiliki rasa cinta, untuk menghargai, dan mengerti akan arti karunia itu semua.
Di atas seluruh karunia itulah kita menikmati hidup ini. Dengannya kita menitahkan jati diri kita, sebagai makhluk dengan peradaban yang tak pernah berhenti mencari gaya barunya. Dengan semua karunia itu, kita yang muslim dan memilih jalan keislaman bisa mengarungi samudera keimanan. Bisa menjalankan bermacam syiar keislaman, yang wajib maupun yang sunnah.
Dalam konteks inilah, kita meletakkan cinta kita kepada karunia Allah. Sekaligus dalam konteks itu pula, kita meletakkan rasa kehilangan kita, akan karunianya ketika ia harus terputus dari kita. Maka, tidak semata dalam kaitan dengan Ramadhan, sesungguhnya karunia hidup ini punya batas usianya. Sebuah batas yang berada di alam gelap, tetapi ia sangat dekat dengan kita, mengintai setiap saat. Seperti serigala yang mengendap menunggu mangsanya tanpa pernah lelah atau tertidur barang sekejap.
Semua perlambang hidup, yang bergerak atau diam, sesungguhnya selalu melambaikan perpisahan, mengalunkan lagu perpisahan. Setiap detik dan setiap waktu. Hari yang selalu baru, sinar matahari yang selalu bergeser dari hangat di pagi hari ke panas di siang hari. Dari panas ke hangat di sore hari. Bayi-bayi yang lahir di seluruh penjuru bumi, menangis dalam ketidakmengertian mereka. Juga para lelaki dan wanita dewasa yang bekerja keras setiap hari, menuju langkah-langkah akhir ketidakberdayaan melawan kematian. Sebagian yang lain menghitung hari, dalam sakit yang berkepanjangan. Semua lakon itu hanyalah para pengiring bagi perpisahan abadi: kita yang meninggalkan perlambang itu, atau perlambang itu yang harus meninggalkan kita.
Karenanya dalam ketidaktahuan yang permanen, segala kesempatan baru harus kita maknai sebagai kesempatan terakhir. Seperti perkataan Rasulullah, “Shalatlah seperti shalat perpisahan.” Ya, artinya shalatlah seperti seakan ini shalat terakhir kita. Tidak ada yang tahu, apakah masih ada esok hari bagi kita atau tidak.
Seperti sebuah perjalanan yang panjang, sesungguhnya hidup ini adalah kereta tua yang tidak pernah tahu kapan akan berhenti. Ia terus berjalan, melalui apa saja yang dihadapannya. Segala yang disisinya melambaikan perpisahan. Tetapi tak ada satupun orang yang mengerti kapan ia akan berakhir.
Setiap lambaian kehadiran, sesungguhnya, adalah lambaian perpisahan. Kita hadir untuk kembali. Kita datang untuk pulang, dan kita lahir untuk mati. Begitulah pada dasarnya. Tetapi garis lurus kehidupan yang singkat itu seringkali terasa indah dan lama, ketika di dalamnya banyak gemerlap hiasan dunia. Ada begitu banyak bunga-bunga hidup yang bisa melenakan orang banyak.
Dahulu kita lahir sendiri. Tidak punya apa-apa. Sebagian kita mungkin kemudian punya begitu banyak karunia, rezeki dan kenikmatan lainnya. Tumbuh menjadi pintar, dewasa, dan mungkin kaya. Bagi sebagian kita, mungkin semua itu tinggal kisah masa lalu. Sebagain yang lain mungkin sedang mencoba mewariskan kebesaran itu pada anak cucunya. Sebagian lain mungkin tanpa bisa mengelak, tengah bersiap-siap mengubur kebesaran itu menjadi masa lalu yang hanya akan menjadi prasasti kenangan.
Dahulu kita lahir sendiri, tidak punya apa-apa. Bila kemudian kita menjadi ramai bersama orang lain, atau menjadi punya begitu banyak apa-apa, sejujurnya, ada saat segalanya seperti jarum jam yang berputar kembali: kita kembali sendiri dan tak punya apa-apa.
Maka di Ramadhan yang mulia ini, saat sumber kekayaan spiritual dilapangkan luas-luas, saat bermacam karunia tak diberikan pada bulan lainnya, harus ada kekhawatiran bagi kita, jangan-jangan ini Ramadhan terakhir kita.*My Quran.org
Diposting oleh Administrator Jam 07.58.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Senin, 10 September 2007
Ramadhan Tiba, Seberapa Besar “Wadah” yang anda siapkan??
Makanan yang disediakan jumlahnya sangat berlimpah. Setiap pengungsi boleh mengambil makanan pembagian itu sebanyak-banyaknya, tapi karena waktunya sempit, pembagian makanan hanya berlangsung satu kali saja. Karena itu, panitia mempersilahkan para pengungsi untuk membawa wadah atau tempat sebesar-besarnya agar dapat menampung makanan sebanyak-banyaknya.
Sayangnya, kebanyakan pengungsi tidak memperhatikan himbauan panitia. Saat berlangsung pembagian makanan, kebanyakan pengungsi hanya membawa wadah sebesar piring dan mangkuk kecil sehingga hanya sebesar wadah itulah mereka mendapatkan jatah makanan. Bahkan ada yang tidak membawa wadah apapun, sehingga cuma bisa mencicipi makanan itu dengan ujung jarinya.
Yang lebih bodoh lagi, ada yang tidak mau mendatangi tempat pembagian makanan. Mereka hanya menatap dari kejauhan sehingga jangankan dapat makanan, sekedar baunyapun mereka tak dapat.
Dari sekian banyak pengungsi, hanya ada segelintir orang yang membawa wadah berukuran besar. Mereka yang sedikit ini tahu benar bahwa makanan yang dibagikan sangatlah lezat dan bergizi. Sebagian mereka ada yang membawa baskom besar, dan sebagian lainnya panci besar. Dan ada satu-dua orang yang membawa drum dan ember yang besar.
“Saya tahu makanan yang dibagikan sangatlah lezat dan bergizi, sehingga rugi rasanya kalau saya hanya mendapatkan sedikit,” kata si pembawa drum menjelaskan alasannya.
“Kok banyak sekali makanan yang Anda ambil, apakah tidak khawatir dituduh serakah?” tanya pengungsi yang lain.
“Tidak,” jawab pembawa drum dengan mantap, “Karena saya juga tahu sang pemberi makanan ini punya stok tak terbatas. Jadi sebanyak apapun makanan yang kita ambil, bahkan hinga satu truk pun kita ambil, setok masih tetap tersedia. Para pengungsi lain dijamin akan tetap kebagian meski masing-masing membawa wdah sebesar truk.” Subhanallah !!!
Kira-kira seperti itu pula kondisi kaum muslimin dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Pada bulan ini Allah yang Maha kaya dan Maha Dermawan telah menyediakan pahala yang berlimpah-ruah untuk dibagi-bagikan kepada siapa saja yang berhasrat mendapatkannya. Begitu melimpahnya pahala yang Dia sediakan, sehingga setiap orang dapat mengambil sebanyak mungkin tanpa khawatir yang lain tidak kebagian.
Berapa banyak pahala yang dapat diraih seseorang? Tergantung dari seberapa besar “wadah” yang kita persiapkan. Dalam hal ini “wadahnya” adalah diri kita sendiri, yakni dengan cara men-setting hati, pikiran, jasad, dan harta kita sehingga siap menangguk pahala Ramadhan sebanyak-banyaknya.
Konon Rasulullah saw. dan para sahabatnya telah mempersiapkan kedatangan Ramadhan diri sejak bulan Rabi’ul Awwal, atau enam bulan sebelum ramadhan Tiba. Kemudian sejak bulan Rajab, atau dua bulan sebelum Ramadhan, gairah menyambut bulan suci kian berkobar. Selama dua bulan ini mereka selalau berdoa, “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampikanlah (usia) kami hingga Ramadhan.”
Semoga kita dapat men-setting diri kita sehingga mendapatkan apa yang telah Allah janjikan pada bulan yang mulia ini. Amin ya rabbal alamin
Diposting oleh Administrator Jam 10.55.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Ramadhan Kurang Beberapa Hari, Apa Persiapan Anda?
Begitu pula dengan Muhammad (16), yang kini dudul Tempe’s Corona del Sol High School. Baginya, ia terpaksa harus rela memilih berpisah dari teman-temannya yang biasa main sepak bola dan basket di akhir pekan.
“Aku harus memilih salah satu, maka saya lebih memilih Al-Quran. Sebab sepak bola adalah sesuatu hal musiman, tetapi Al-Quran akan menginap di rumah aku untuk selamanya,” ujar Muhammad. Dan gol nya, setelah lulus nanti, ia, akan pergi ke Mesir dan menghabiskan tujuh tahun belajar syariah, atau Hukum Islam, dan mungkin, suatu hari akan menjadi imam di suatu mesjid.
Walaupun Ramadhan masih lima hari lagi, keluarga pasangan Abdelmoneim dan Amal Mabrouk serta Sembilan anaknya nampak sibuk mempersiapkan diri. Bersama keluarga besarnya, mulai latihan berpuasa, untuk menindas kebiasaan makan mereka dan mengarahkan aktivitas keduniawian.
”Ini suatu hal yang baik kamu praktekan,” kata putranya yang berumur 11 tahun, Yassin. “ Di hari pertama, itu benar-benar sulit sebab kamu tidak terbiasa untuk itu, dan kemudian setelah 10 hari, kamu masih berjuang.” Dan nanti, sepanjang 10 hari terakhir, keluarga ini akan lebih sering berada di masjis guna mengambil energi dari bulan Ramadhan, tiang Islam yang ketiga.
Keluarga pasangan Abdelmoneim dan Amal Mabrouk adalah salah satu contoh dari sekian keluarga Muslim yang kini tinggal di Amerika Serikat (AS). Ramadhan dimulai pada hari Kamis depan. Tapi persiapan keluarga ini sudah cukup matang.
Bulan Juni lalu, misalnya, di selatan masjis Tempe, Muhammad telah mendapat sertifikat lulus hafalan Al- Quran, suatu kecakapan membaca dan menghafal ayat Al-Quran.
“Benar, ini akan menjadi kitab yang paling dihafalkan di seluruh dunia,” ujar Muhammad. “ Adalah hal sulit di Amerika, sebab di sini tidak ada masjid di sekitar sini untuk dapan belajar, ” ujarnya dikutip Tribune.com.
“ Selama Ramadhan, ibu ku membuat makanan yang menarik tidak seperti hari-hari biasa,” ujar Yousef sembari tersenyum. Puasa juga menyebabkan orang-orang di sekitar sering menanyakan, “Ketika orang-orang bertemu denganku, aku katakan, ”Aku berpuasa,” ujar kakaknya, Eman. Dan itu memimpin ke arah suatu perbincangan, terutama memberi pengenalan tentang Islam.”
Terutama sepanjang bulan Ramadhan, keluarga ini nampak secara kontinyu bolak-balik ke masjid untuk doa.
Meriah Lampion
Suasa menjelang datangnya bulan Ramadhan nampak meriah di Mesir. Di negeri piramid ini suasanya terasa agak berbeda. Tenda-tenda toko berwarna merah dengan corak bunga yang khas mulai menghiasa tepi jalanan protokol. Rumah-rumah dan dang-gang mulai memasang lampion Ramadhan yang kebanyakan berwarna merah. Masjid-masjid pun dihias dengan lampu warna-warni, sehingga ketika malam hari masjid-masjid tampak gemerlapan. Bagi masyarakat Mesir, hal ini adalah sebuah ungkapan rasa syukur atas datangnya bulan Ramadhan.
Aktivitas tetap berjalan walau bulan Ramadhan, akan tetapi ibadah yang lain juga tidak ditinggalkan. Agar tetap bisa membaca Al Quran, para pegawai dan pelajar membawa Al Quran ukuran saku. Sehingga jangan heran jika banyak menjumpai orang membaca Al Quran, baik itu di halte-halte, dalam trem atau bus. Bahkan tampak beberapa anggota militer yang berseragam hitam-hitam bersenjatakan AK 47 membaca Al Quran di dalam pos penjagaan mereka di tiap persimpangan jalan. Ini adalah pemandangan lazim yang bisa kita temui selain di bulan Ramadhan, walau tidak terlalu banyak. Karena memang rakyat Mesir sudah amat ”akrab” dengan Al Quran. Survei tahun 2002 menunjukkan bahwa 18 persen dari penduduk mesir yang berjumlah 67 juta jiwa adalah hafidz (hafal) Al Quran, maka jika ada 6 orang Mesir, maka salah satunya hafidz.
Untuk berbuka puasa, banyak tempat yang menyediakannya secara gratis, baik itu atas nama pribadi atau organisasi, yang biasanya disebut dengan maidaturrahman. Di sana juga ada kue khusus yang hanya ditemukan ketika Ramadhan, yaitu atayef (seperti kue serabi)
Shalat terawih biasanya membludak hingga tepi jalan, umumnyanya panjang bacaan satu juz dalam satu malam, sehingga ditargetkan khatam 30, setelah Ramadhan berakhir. Tapi ada beberapa masjid yang memiliki bacaan extra panjang, semisal masjid Imam Syafi’i yang mentargetkan satu malam 5 juz, hingga shalat tarawih selesai menjelang sahur.
Akan tetapi jamaahnya tetap ramai, karena rata-rata mereka adalah hufadz Al Quran. Masjid Amru bin Ash juga banyak didatangi, karena imamnya, Syaikh Jibril terkenal memiliki suara yang merdu. Tidak hanya suara, tapi doa qunut witirnya nya yang panjang hingga satu jam juga memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Mesir.
Mirip dengan Indonesia, di Mesir ternyata ada juga tradisi ronda untuk membangunkan orang sahur, yaitu dengan memukul benda-benda sambil mengelilingi kampung dan berseru, ”ramadan kariiim!” (Ramadhan yang mulia) Jika berpapasan maka kita menjawab, ”Allahu Akram” (Allah yang Maha Mulya).
Pada sepuluh malam terakhir, terlihat kaum muslim, khususnya anak-anak muda, dengan ransel mereka, berbondong-bondong menuju masjid, untuk melakukan i’tikaf.
Arab Saudi
Suasana Ramadhan di Arab Saudi tidaklah terlalu berbeda dengan suasana di negara Timur Tengah lainnya. Rata-rata mereka memiliki antusias tinggi dalam menyongsong bulan yeng penuh berkah ini.
Akan tetapi, ada yang istimewa di sana, tepatnya di masjid Al Haram Makkah dan masjid Nabawi, Madina. Di waktu-waktu tertentu jumlah jama’ah di kedua masjid itu melebihi jumlah jama’ah pada saat musim haji. Yaitu pada malam-malam ganjil di bulan Ramadhan, khususnya malam ke 27. Hal itu dikarenakan seluruh muslim di dunia berkumpul di tempat ini untuk memburu Lailatul Qadar, dan penduduk lokal pun tidak mau tertinggal, sehingga pada hari-hari itu shalat jama’ah dipusatkan di Masjid Al Haram.
Shalat terawih sebanyak 23 rakaat dengan sujud dan rukuk yang cukup lama, sehingga seseorang yang sudah dilanda kantuk bisa saja langsung terlelap, apalagi dengan bacaan imam yang merdu. Di akhir raka’at doa qunut panjang yang banyak berisi permohonan pertolongan terhadap umat ini dikumandangkan, sehingga banyak jama’ah yang terseduh-seduh karena begitu khidmatnya.
Karena banyaknya jumlah jama’ah di masjid Al Haram, maka jika seseorang ingin beri’tikaf ia harus memesan tempat, yang hanya berupa gelaran sajadah atau selimut. Karena kemudahan itu, maka sering terjadi tengkar mulut dan adegan saling desak serta klaim “kapling” ketika hendak melakukan shalat. Maka bisa dibayangkan jika waktu istirahat malam tiba, maka jama’ah bak ikan-ikan yang berjajar.
Untuk berbuka, para muhsinin sudah mempersiapkan makanan dan minuman yang diletakkan di atas plasik panjang di lantai masjid dan itu sudah dilakukan setelah shalat Ashar.
Adapun di Masjid Nabawi, suasana relatif lebih tenang, tidak sepadat masjid Al Haram, sehingga mereka yang beri’tikaf bisa membawa tas-tas besar berserta peralatan. Makanan berat pun disediakan secara cuma-cuma dan antusias mereka untuk menjamu orang yang berpuasa amat tinggi, sehingga banyak yang berebut dan menarik-narik tangan para jama’ah agar ikut berbuka bersama mereka.
Hilang Semangat
Berbeda dengan keluarga Amal Mabrouk, dan beberapa warga Muslim lain di seluruh dunia yang bergembira menyambut datangnya Ramadhan, Huda Abdullah (65), nenek asal Iraq ini mulai kehilangan minatnya pada Ramadhan. Sebelum hadirnya pasukan asing meluluh-lantakkan negerinya, ia terbiasa menanti bulan suci ini dengan suka-ria. Bahkan, selalu ada perayaan menyambutnya. Namun, kali ini dia tak begitu berminat.
Dulu, sebelum datangnya pasukan asing di bawah Amerika, dia menyambut Ramadhan, dengan pergi ke pasar. Membeli daging, telor dan barang-barang lain. Ketika perayaan dimulai, ia bersama empat anaknya serta famili lain akan berkumpul menyantap makanan. Ada kacang-kacangan, sup, sate biri-biri dan panggang ayam. Kemudian, keseluruhan keluarga itu akan berjalan-jalan di sepanjang jalan Baghdad selama berjam-jam setelah gelap dan menyambut para teman dan tetangganya. Tapi, melihat kondisi Iraq, mungkin itu hanyalah ilusi.
”Ramadhan kali ini telah membuat hilangnya selera saya," ujar Abdullah. " Di masa lalu, kita bahkan menunggu dan menghitung hari untuk menerima Ramadhan. Sekarang aku tidaklah tertarik sama sekali,” tambahnya. Penyebabnya tak lain kondisi Baghdad yang hancur dan tak ada rasa aman.
Sejak invasi yang dilakukan Amerika tahun 2003, kekerasan telah meningkat selama Ramadhan. Ketidak amanan di Iraq menjadi pembatas gerakan masyarakat umum. Selain ada pasukan asing, penculikan para milisi juga ada di mana-mana.
Bahkan tahun lalu, polisi Iraq justru menghalang-halangi akses beberapa masjid selama bulan Ramadhan karena perkelahian sektarian, ujar Karam Hareth (34), seorang karyawan di Kementrian, sebagaimana dikutip USA Today.
Para pedagang Iraq juga mengaku kekurangan uang. Abdel Hamid Alwan (56), yang biasa berjualan di Malika supermarket, di Baghdad timur, mengaku tak kurang persediaan barang di toko nya. Tapi ya itu tadi, banyak barang tidak laku. "Sedikit sekali orang yang berbelanja," ujarnya. Baghdad, tak ubahnya suatu kota besar yang mati ketika malam datang, ujar Hareth. Meski agak frustasi, setidaknya bagi Abdullah dan Hareth, ia masih berharap bisa menyambut Ramadhan sebagaimana sebelum datanya pasukan asing di negerinya. www.hidayatullah.com
Diposting oleh Administrator Jam 09.59.00 0 Komentar
Label: Ramadhan
Minggu, 09 September 2007
”Akhirnya, Kuperbaiki Ibadahku”
Ramadhan tahun ini sudah di depan mata. Rasa syukurku tiada habisnya, mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan Alloh SWT. Mengingat kembali Ramadhan dan Lebaran, masih ada haru yang tersisa.
Satu tahun yang lalu, 1 Rajab 1427 Hijriyah, alhamdulillah anakku yang kedua telah lahir, laki-laki, kuberi nama Fawwaz Ihsan. Bagiku nama adalah doa. Aku berharap anakku akan menjadi anak yang ihsan, senantiasa mendapatkan kemenangan dan kebaikan dari Alloh Maha Pencipta.
Kebahagiaanku saat itu tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Doaku telah dikabulkan. Setelah 7 tahun yang lalu aku dikaruniai seorang anak perempuan, Allah mengabulkanku memiliki anak laki-laki. Tapi, mungkin ini kesempatanku yang terakhir untuk bisa mengandung. Dokter melarangku untuk mengandung lagi. Selama 9 bulan aku mengandung, aku sering mengalami gangguan kesehatan. Mulai dari vertigo yang cukup serius hingga aku harus menjalani perawatan dokter spesialis syaraf terus menerus sampai saat melahirkan tiba.
Di awal-awal kehamilanku dokter kandunganku juga telah memberitahu bahwa aku mengalami placenta previa, sehingga aku harus melewati saat-saat yang dinanti semua wanita itu melalui operasi caesar kembali. Tidak hanya itu saja gangguan kesehatan yang aku alami. Di usia 6 bulan kehamilan, hemorhoid atau sering juga disebut wasir sejak lama aku alami, semakin parah hingga cukup mengganggu.
Saat itu kandunganku yang kedua memasuki usia 7 bulan. Tiba-tiba di suatu malam aku pingsan!!! Tidak sadarkan diri. Saat itu suami dan anakku berlari ke tetangga mencari pertolongan. Untunglah aku mempunyai tetangga-tetangga yang baik. Dengan dibantu tetangga, suamiku segera membawaku ke dokter kandungan untuk menjalani pemeriksaan. Terpaksa, anakku yang pertama, Tia, dititipkan di rumah tetangga. Aku dirujuk ke rumah sakit. Dugaan dokter aku mengalami gangguan usus buntu akut. Dan ternyata setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, dokter bedah mengharuskan aku untuk operasi appendix (usus buntu).
Keputusan dokter itu membuatku gamang. Betapa tidak, di satu sisi aku bersyukur karena sakit yang kurasakan kurang lebih selama 6 tahun telah diketemukan penyebabnya. Namun di sisi yang lain, aku bertanya kenapa harus sekarang? Mengapa harus aku alami di saat aku tengah hamil? Bagaimana dengan bayi yang kukandung? Tak seorang pun yang bisa menjawabnya. Tidak juga dokter.
***
Dua bulan menanti melahirkan, aku terus memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran dari radio untuk bayiku melalui tape recorder atau aku bacakan sendiri. Bekas operasi usus buntuku juga masih sakit. Sementara itu, perutku terus membesar. Menurut hasil USG, Insya Alloh anak yang berada dalam kandunganku adalah laki-laki.
Tanggal 27 Juli 2006, adalah tanggal yang ditetapkan dokter bagiku untuk menjalani operasi melahirkan. Sebelum berangkat, aku berpamitan ke tetangga juga pada anakku yang pertama agar ikut mendoakanku adiknya.
Di rumah sakit, semua siap menungguku. Kulihat dokter kandungan, dokter anak, dan dokter anestesi serta para asistennya sudah berada di ruang operasi. Di atas meja operasi, surat Al fatihah tiada henti aku ucapkan. Operasi kali ini kurasakan lebih berat. Aku mual dan muntah sepanjang operasi. Sesak dan sulit bernapas. Aku dengar asisten dokter berkata, "Dok, pendarahan..." Aku terus berdoa. Sebentar kemudian aku mendengar suara seperti suara sebuah alat menyedot cairan. Beberapa menit kemudian terdengar lagi asisten dokter berkata, "Dok, pendarahan lagi..." Sebentar kemudian aku mendengar lagi suara seperti suara sebuah alat menyedot cairan. Dan kejadian seperti itu berulang sampai tiga kali. Suara asisten dokter terdengar lagi, "Dok, tensi turun 100/54..." Aku masih terus berdoa. Beberapa waktu kemudian dokter berkata," Siap-siap ya ... dorong,". Sesaat kemudian perutku didorong hingga beberapa detik aku tidak bisa bernapas. Aku merasa dorongan itu adalah untuk mengeluarkan bayi dalam perutku. Aku merasa sangat lemas dan bertambah sesak.
Tiga jam di meja operasi terasa sangat lama bagiku. Alhamdulillah semuanya sudah terlewati. Aku telah dipindahkan ke kamar. Meski lemas, aku masih bisa berpikir," Mengapa tak terdengar tangis bayiku?" Ah,.... semoga tidak apa-apa. Tak lama kemudian seorang perawat menunjukkan kepadaku seorang bayi," Ini, Bu bayinya. Laki-laki. Beratnya 3,7 panjangnya 50.". Aku hanya bisa mendesah pelan," Alhamdulillaah..."
Tapi tetalu lama aku menunggui bayiku. Biasanya, sesudah dibersihkan segera diberikan ke ibunya untuk segera disusui yang pertama. Saat kutanyakan kepada suami, ia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa bayiku diletakkan di ruangan khusus.
Ketika dokter kandungan menjengukku, betapa kagetnya aku saat mendengar jawaban bayiku dirawat di Neonatus Intensif Care Unit (NICU). Suamiku tak paham, jika yang dimaksud dengan ruangan khusus bayi itu adalah NICU. Biasanya, bayi-bayi yang ditempat di tempat ini karena membutuhkan perawatan khusus untuk mempertahankan kehidupannya. Ia tak pernah bertanya mengapa bayi kami diletakkan di sana. Ah ... begitulah suamiku. Mungkin ini bedanya kasih seorang bapak dan ibu.
Aku merenung, ujian apa lagi yang diberikan Alloh padaku. Baru sebentar aku merasa bahagia. Tapi ternyata kebahagiaanku itu tak berlangsung lama. Enam jam setelah lahir, bayiku masuk NICU karena biru. Ketika aku tanyakan apakah tidak ada kemungkinan kelainan jantung, dokter anak memberikan penjelasan bahwa itu bisa saja terjadi karena penyesuaian suhu dari rahim menuju ke dunia luar. Syukurlah. Dua hari di NICU, akhirnya bayiku dipindah ke ruanganku. Betapa bahagianya aku saat menyusui tiba. Tapi aku sedikit heran karena berbeda dengan kakaknya dulu. Bayiku ini tidak begitu suka minum. Ada perasaan tidak enak di hatiku. Hanya semalam aku bersama bayiku.
Keesokan harinya kulihat wajah bayiku kuning. Kembali bayiku dirawat di ruang terpisah. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah tidak menangisnya bayiku ketika lahir adalah suatu pertanda? Mengapa bayiku berwarna biru? Dan mengapa sekarang berwarna kuning?
Sehari setelah dipisahkan dariku, kembali aku bisa bersama dengan bayiku dalam satu ruangan yang sama. Meski begitu, kami berdua belum diijinkan pulang oleh dokter. Bayiku masih terus dipantau dokter. Setiap 2 jam aku harus memberinya minum 10 cc, begitu pesan dokter. Aku jaga jangan sampai bayiku kurang minum lagi. Memang sangat susah membuat dia mau minum. Perutnya digelitiki, kakinya harus dijentik-jentik dengan jari, apapun aku lakukan agar dia mau minum. Sebenarnya menurutku dia sangat ingin minum. Tapi nampaknya dia tidak kuat untuk mengisap. Sering dia tersedak, dan muntah. Lima hari kami berada di rumah sakit, dan alhamdulillah akhirnya kami diijinkan pulang.
Dua hari sepulang dari rumah sakit, aku sempatkan untuk melaksanakan aqiqah untuk Ikhsan, begitu aku memanggilnya. Semenjak pulang dari rumah sakit, rata-rata dua kali seminggu aku membawa Ihsan ke dokter anak. Diare yang tak kunjung sembuh, dan biru yang tetap membayang di sekujur tubuhnya membuat perasaanku semakin gundah. Sementara dokter tak jua menemukan penyakitnya. Setiap kali aku bertanya ke dokter, jawabannya selalu sama, "Anak ibu tidak apa-apa”. Namun kata-kata dokter itu tidak juga membuatku tenang. Periksa ke laborat juga sudah tak terhitung jumlahnya.
Hatiku semakin gelisah jika setiap kali melihat dia menangis. Tubuhnya membiru bahkan cenderung hitam jika dia menangis. Dadanya bentuknya aneh. Kadang dadanya naik turun dengan cepat saat dia bernafas, kadang juga nafasnya berhenti beberapa saat lamanya. Kepalanya sering mengangguk-angguk saat dia bernapas. Aku sering berdebat dengan suamiku. Menurutku ada sesuatu dengan anak keduaku ini. Tapi menurut suamiku Ihsan mewarisi kulit kakeknya, hitam, dan nafas seperti itu biasa untuk bayi, tidak apa-apa. Aku tetap tidak bisa menerima argumennya. Apalagi setiap tamu yang menjenguk selalu mengatakan kulit Ihsan biru. Kukunya pun biru. Bahkan bibir dan lidahnya juga biru. Dan aku memang melihatnya begitu.
Setiap hari sejak dia berada di rumah, hampir tidak pernah mau ditidurkan di tempat tidurnya. Maunya selalu minta digendong. Itupun masih sering rewel juga. Nyaris aku tidak punya waktu untuk istirahat. Satu hal yang agak melegakan hatiku, Ihsan hanya mau minum ASI, tidak susu yang lain. Itu yang membuat aku bersemangat untuk tetap memberikan ASI yang terbaik untuknya. Aku jaga makananku agar ASI ku cukup untuknya. Tapi mungkin karena faktor umur, ASI ku tak sebanyak dulu. Suplemen-suplemen untuk melancarkan ASI ku minum, makan sayuran yang banyak, semua kulakukan agar ASI ku tetap ada untuknya.
Sampai Ihsan berusia 56 hari, biru di sekujur tubuhnya masih tetap ada. Aku putuskan membawanya lagi ke dokter, dan aku sudah bertekad akan aku cari apa penyebabnya ke manapun. Aku sudah tidak sabar lagi mencari jawaban atas keanehan-keanehan yang terjadi pada Ihsan. Aku sudah tak tega lagi melihat penderitaannya. Walaupun aku ditentang suami dan mertuaku, aku sudah bertekad untuk mencari jawabannya. Dan aku berdoa mudah-mudahan segera diberikan petunjuk oleh Alloh swt. Sebenarnya dokter masih saja bersikukuh dengan jawaban yang sama, tidak apa-apa. Sekali lagi aku berusaha menjelaskan bagaimana kondisi anakku setiap harinya. Tubuh dan kuku masih tetap membiru, dan semakin menghitam jika dia menangis. Sering muntah melalui hidung, dan diare yang tak kunjung berhenti. Berat badan yang semakin hari tidak juga bertambah. Hingga akhirnya aku memohon ke dokter, "Sebaiknya saya harus kemana, Dok, agar saya bisa menemukan jawaban?".
Akhirnya dokter menyarankan aku untuk mencoba memeriksakan Ihsan ke dokter spesialis jantung anak, dengan membawa surat pengantar dari beliau. Karena tekadku sudah bulat, saat itu juga aku langsung membawa Ihsan ke Prof. Dr. Teddy, seorang dokter spesialis jantung anak.
"Ibu, anak ibu sudah kritis. Dia gagal jantung. Kenapa baru dibawa ke sini?" dengan nada agak tinggi dr. Teddy berkata kepadaku, saat keesokan harinya aku bawa anakku ke sana. Aku dan suamiku terdiam, tak tahu harus berkata apa. Pandangan mata kami menatap ke dr. Teddy seakan tak percaya. "Sekarang juga anak ini harus opname di RS Dr. Sutomo, anak ini sesak nafas!" begitu kata-kata dr. Teddy menyadarkan keterkejutan kami.
Sepanjang perjalanan pulang dari tempat praktek dr. Teddy ke rumah, aku tak bisa menahan tangisku. Suamiku hanya diam sambil menggendong Ihsan dalam pelukannya. Diciuminya Ihsan. Ada sesal di hati kami, mengapa baru sekarang kami mengetahuinya. Betapa bodohnya kami 56 hari dia menderita tapi tidak seorangpun yang tahu. Aku merasa sangat berdosa pada Ihsan. lbu macam apa aku ini hingga tak tahu apa yang dirasakan anaknya.
Sepanjang hari, apa yang aku lakukan hingga mataku buta, telingaku tuli tak bisa memahami tangisan anak yang telah aku lahirkan sendiri. Aku dan suami saling menyalahkan. Suamiku menyalahkan aku, kenapa selama hamil aku sakit-sakitan, minum bermacam-macam obat, atau mungkin juga pengaruh dari operasi usus buntu? Aku tidak mau kalah. Aku menyalahkan suamiku, ini akibatnya jika waktu hamil ibunya mengalami depresi, mungkin ini juga karena faktor keturunan dari adik suamiku yang meninggal karena kelainan jantung, atau karena suamiku tidak berdoa ketika janin terbentuk dulu. Kami berdua hanya bisa saling menyalahkan dan menyalahkan. Ada nada menggugat Allah. Ya Alloh, dosa dan salah apa yang telah aku lakukan hingga Engkau menguji kami seperti ini?
***
"Anak ini mengalami kelainan jantung TGA dan VSD, Bu. Anak ibu harus menjalani operasi. Dan operasi ini tidak bisa dilakukan di Surabaya. Biayanya kurang lebih 100 juta!".
"Seratus juta, Dokter?" aku mengulangi kata-kata dokter mungkin pendengaranku salah. Tapi ternyata tidak.
"Ya. 100 juta." lanjut dr. Mahrus yang melakukan pemeriksaan echo untuk Ihsan. Aku diam tergugu. Bingung, dari mana aku dapatkan uang sebanyak itu? Sedang tabunganku saat itu tinggal 3 juta. Apakah aku akan membiarkan anakku? Ataukah aku membawanya kembali pulang dan menunggu saat itu tiba? Itu berarti aku menjadi orang tua pengecut, tidak mau berusaha demi kesembuhan anaknya. Tapi jika kuturuti saran dokter, darimana aku memperoleh uang 100 juta?"
"Ya Alloh, Engkau telah belanji tidak akan memberikan ujian kepada umatMu melebihi dari kesanggupannya. Tapi mengapa ya Alloh, Engkau beri aku ujian seperti ini? Beri kami kemudahan ... Ya Alloh"
Singkat cerita, Alloh memberi jalan. Atas dukungan dari orang tua, saudara, kerabat, tetangga, teman semuanya kami memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. Di Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita di Jakartasaya bisa menggunakan Askes PNS. Dan kami cukup menyediakan uang sekitar 15 juta. Orang tua, mertua, sanak saudara dengan ikhlas membantu kami. Mereka harus mengambil uang tabungan yang juga tidak banyak, Bahkn ada yang menjual tanah yang tidak seberapa luas, dan menjual perhiasan yang juga tidak seberapa. Suamiku juga menawarkan rumah kami untuk dijual, namun, sampai saat ini belum juga laku terjual.
Tapi masih juga ada masalah, Ihsan harus tetap memakai oksigen dan infus untuk ke Jakarta. Maskapai penerbangan yang punya fasilitas seperti itu hanya Garuda Airlines. Dan itu harus melalui ijin khusus dan deposit sebesar $ 1,000 atau Rp. 16 juta. Alhamdulillah, Alloh masih memberi kemudahan. Tanpa diduga. Atasan suamiku, bersedia membantu mengurus ijin dan tiketnya, sekaligus meminjami uang kepada kami.
Akhirnya, di hari ke-3 bulan Ramadhan, Ihsan, aku, suamiku, dan seorang perawat yang mendampingi selama perjalanan ke Jakarta, berangkat menuju bandara Juanda dengan diantar ambulan. Semua orang, termasuk orangtuaku, mertua,tetangga dan teman-teman kerja suamiku, mengantar keberangkatan kami sampai ke bandara. Sebelum berangkat, Bapakku berpesan "Jangan lupa baca terus Laa haula walaa quwwata illa billah." Air mata ini semakin deras, saat aku berpamitan ke Tia, anak kami pertama. Dengan keberangkatan ke Jakarta, otomatis, kami harus meninggalkan Tia untuk waktu yang tidak jelas.
”Ya Allah, hanya Engkau yang mampu hadir dalam segala kesedihanku. Menyediakan diriMu untuk selalu mendengar curahan-curahan kesedihanku yang tak mungkin seorang pun tahu. RahasiaMu yang Maha Besar mungkin belum bisa kucerna, atau mungkin kehendakMu ini adalah untuk membuat aku lebih tegar menghadapi sisa umurku..”
”Aku titipkan anak-anakku padaMu ya Allah, karena hanya Engkaulah yang bisa membimbing mereka, dan hanya Engkaulah yang aku yakini dapat menjadikan mereka menjadi orang-orang yang baik dan terpilih.”
Akhir Ramadhan
TGA, VSD ...!!!
Dulu, huruf-huruf itu tak mempunyai makna bagiku. Tapi sekarang ini, huruf-huruf itu tidak asing lagi bagiku. TGA adalah Transposition of the Great Arteries, dimana secara umum bisa diartikan bahwa aorta tertukar tempatnya dengan arteri pulmonalis, sehingga fungsinya pun tidak normal. Itulah yang menyebabkan darah yang mengalir di tubuh tidak mengandung oksigen, dan membuat si penderita menjadi biru. Untuk dapat bertahan hidup, tergantung dari peran lubang-lubang pada sekat jantung (VSD= Ventricular Septal Defect).
Di RS Harapan Kita peralatannya lebih lengkap dan canggih. Pelayanan dokter maupun perawatnya pun sangat baik. Ruang khusus untuk anak berada di lantai 7 dan lantai 8. Di sana dokter yang bertugas cukup banyak. Hampir semua dokter mengatakan aku harus siap mental. Benar-benar harus siap mental.
"Bu, anak ibu mengalami kelainan jantung TGA. lbu banyak doa aja, karena TGA itu kasus yang paling sulit. Operasinya lebih rumit, dan kemungkinan di ICUnya juga lebih lama. lbu harus siap mental"
Ada yang mengatakannya dengan halus, namun ada juga yang menyampaikannya dengan nada merendahkan, "Kalau TGA mah banyak doa aja, deh. Tunggu keajaiban. Apalagi udah 2 bulan usianya!"
Ya Alloh…….ujian ini begitu berat bagiku. Mengapa justru di saat aku merasa lebih dekat denganMu di sepanjang usiaku, Engkau memberiku ujian seperti ini. Mengapa Ramadhan kali ini harus kulalui seperti ini?.
Ya Allah....jika dengan ini imanku padaMu bertambah, aku amat rela dan memang hanya padaMu aku berserah diri. Aku tidak memintaMu untuk mengambilnya dariku sehingga aku melupakanMu, namun aku mohon kuatkanlah pundakku agar terasa ringan aku memikulnya.
***
Ramadhan 1427 H, aku berdua dengan suamiku menunggui Ihsan. Ramadhan kali ini kami jalani dengan keprihatinan. Aku masih belum berpuasa karena aku harus menjaga ASI ku yang semakin hari semakin berkurang. Beban fikiran, serta sulitnya mendapat sayuran membuat ASIku semakin berkurang. Terlebih lagi aku memberikan ASI tidak bisa secara langsung, akan tetapi harus dipompa dulu, karena Ihsan minum melalui selang yang dimasukkan lewat hidungnya. Minumnya diukur menurut ukuran tertentu.
Istighfar, tasbih, dan tahmid hampir tiada henti terucapkan. Berdoa dan membaca Al Quran adalah kebutuhan bagi kami. Barangkali ini hikmahnya. Alloh ingin mendengar doa-doa kami. Selama menunggu waktu operasi bagi Ihsan, aku sendiri menyaksikan anak-anak yang mengalami TGA memang lebih mengkhawatirkan. Batas waktu usia bagi penderita TGA menurut teori kedokteran hanya 3 bulan! Waktu yang terbaik dilakukan operasi adalah sebelum 3 bulan. Jika dilakukan operasi, operasinya memakan waktu 7-8 jam, dirawat di ICU sampai 13 hari. Bahkan pernah keluarga pasien dipanggil dokter karena pasien kritis. Ada lagi pasien TGA dari Yogya yang operasinya tidak berhasil, dan pasien meninggal di meja operasi. Ada juga pasien TGA yang meninggal sebelum dilakukan operasi. Tapi ada juga pasien TGA hingga berusia 12 tahun baru dilakukan pembedahan! Subhanallah.....
Dokter-dokter lebih sering mengingatkan aku untuk menyiapkan mental. Operasi apapun, apalagi jantung, kata dokter, tak bida dikalkulas keberhasilannya. Aku terkesiap mendengar jawaban dokter. Astaghfirullah....hampir aku lupa dengan kuasaMu ya Alloh... Upaya apapun, hanya Engkau yang punya hak, Ya Allah.
Anakku ditangani banyak ahli. Dr. Poppy, dokter spesialis jantung anak adalah dokter yang sangat baik. Dr. Yusuf Rakhmat, dokter spesialis bedah jantung --yang akan melakukan operasi nanti-- adalah dokter bedah senior. Banyak orang yang tak pernah kukenal sebelumnya menjenguk kami di rumah sakit. Ini dorongan bagi kami untuk terus tabah menjalani ujian ini. Mereka dengan sukarela menawarkan bantuan kepada kami jika kami membutuhkan. Subhanalloh..
17 Oktober 2006, kurang lebih seminggu sebelum Idul Fitri tiba, jadwal operasi yang ditetapkan dokter untuk Ihsan. Menjelang operasi, kutemani Ihsan menjalani puasanya. Kutidurkan ia di pangkuanku dan kupandangi wajahnya sepuas-puasnya. Kuletakkan tangan kananku tepat di jantungnya. Kupanjatkan terus doa Alloohumma robbannaasi adzhibil ba'sa wasyfi antasysyaafi laa syifaa-a illaa syifaa-uka syifaa-an laa yughoodiru saqomaa, ya Alloh.. (Tuhan Manusia, hilangkanlah bencana ini dan sembuhkanlah. Engkaulah Dzat Yang Maha Penyembuh, tiada penyembuhan kecuali penyembuhanMu dengan kesembuhan yang tiada menyisakan sakit sedikitpun).
Air mata ini tetap mengalir. Ada terbersit dalam benakku, jika Alloh memberinya kesembuhan, aku masih akan bisa memeluknya. Tapi .... jika Alloh berkehendak yang lain, maka waktuku bersama Ihsan hanya tinggal beberapa jam saja...
Hari Ahad pagi, tepat jam 7.30 menjelang Idul Fitri Ihsan menjalani operasi. Pukul 15.30, hampir delapan jam operasi baru selesai. Dan aku dan suamiku hanya bisa melihatnya dari jendela kaca di ICU.
Sejak berada di ICU, aku dan suamiku, menjadi lebih akrab dengan para orangtua yang juga menunggu anaknya. Kami merasa dekat dan senasib.
Menjelang Idul Fitri tiba, dokter dan perawat yang Muslim banyak yang mengambil cuti. Yang bertugas di hari-hari itu kebanyakan adalah dokter dan perawat non-Muslim. Suasana di rumah sakit menjadi sepi. Pasien-pasien ICU banyak yang sudah dipindahkan ke Intermediate Ward (IW). Pasien- pasien yang ada di lantai 7 pun banyak yang telah diijinkan pulang. Rumah sakit tidak menjadwalkan operasi lagi, kecuali jika ada emergency. Tinggal Ihsan dan Amel dari Solo yang ada di ICU. Aku merasa nelangsa. Semestinya di hari-hari seperti ini, semua berkumpul dengan keluarga besar, merayakan hari Lebaran. Mempersiapkan kue-kue lebaran, menyiapkan baju baru untuk anak-anak. Tapi kali ini tidak. Aku semakin sedih saat anakku, Tia, mengirimkan sms untukku, "Ibu, bapak, adik, Tia kangen. Kapan bapak, ibu, dan adik pulang? Sebentar lagi hari raya. Lebaran pulang ya Bu..."
Idul Fitri 1 Syawal 1427 telah tiba. Ihsan masih di ICU juga. Hari itu SMS banyak sekali masuk mengucapkan selamat idul fitri. Aku malas membalasnya. Bukan karena apa, aku hanya tidak ingin perasaanku terbawa sedih. Dari jendela toilet di lantai 7 aku melihat orang-orang bersama-sama keluarganya berbondong-bondong berangkat sholat led. Aku iri melihat mereka. Mengapa aku harus berada di sini? Dalam kondisi seperti ini? Takbir dari masjid-masjid di sekitar rumah sakit terdengar jelas. Aku tidak mau menangis. Cepat-cepat aku keluar dari toilet, dan kembali ke ruang tunggu ICU di lantai 8. Aku menunggu suamiku sholat led.
Ku lihat suamiku menangis. Ketika kutanya ada apa, dia tidak bisa menjawab, hanya menangis. Setelah agak tenang, dia baru bercerita baru saja dia menerima telfon dari adik-adiknya dan mertuaku. Semuanya menangis.
Semantara teman Ikhsan, Amel, dari Solo sudah dipindahkan ke IW, karena sudah membaik. Tinggal Ihsan sendiri di ICU. Aku mulai putus asa. Kondisi Ihsan belum juga membaik. Bahkan dari keterangan dokter diduga Ihsan mengalami sepsis, infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh. Ya Alloh... aku benar-benar putus asa. Setiap jam 2 malam aku selalu sholat memohon keajaiban padaMu, membaca Al-Quran hingga fajar tiba, tapi mengapa belum berakhir juga ujianMu padaku? Ataukah ini hukuman bagiku? Dosa apa yang telah aku lakukan sehingga Engkau menjadi murka?
Selama dua bulan Ihsan, aku, dan suamiku di Jakarta berihtiar mencari kesembuhan. Akhirnya, pada 24 November 2006 kami pulang kembali ke Surabaya. Alhamdulillah sekarang semua sudah aku lewati. Ikhsan, sudah boleh dibawah pulang. Walau setelah itu kami masih diberi ujian lagi, Ihsan baru saja khitan, karena adanya fimosis. Saat menulis ini, typhusku juga tengah kambuh, setelah 2 bulan yang lalu aku menjalani rawat inap. Dan si Ikhsan, juga mengalami gangguan pada hati.
Berbagai ujian yang diberikan padaku, akhirnya membuat aku belajar introspeksi diri. Kuperbaiki ibadahku, berusaha selalu berbuat baik pada siapapun, lebih banyak bersedekah. Dan, berusaha untuk selalu bersabar. Mudah-mudahan Alloh memberi kemudahan bagiku, sehingga aku bisa melanjutkan lagi studiku yang sempat tertunda. Mudah-mudahan pula, semua orang yang telah memberikan pertolongan pada kami sekeluarga, walau sekecil apapun, akan diberikan kelipatgandaan barokah dari Alloh swt. Alloohumma a’innaa 'alaa dzikrika, wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik (Ya Alloh.. tolonglah kami untuk dapat berdzikir kepada Mu, mensyukuri nikmat Mu, dan beribadah dengan baik kepada Mu).
Semoga Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini dan seterusnya akan berganti dengan keceriaan. Tak lupa, teriring ucapan ”Selamat Ramadhan!” Amin.
*Dikisahkan Ny. Lusia Rokhmawati, Surabaya. Tulisan ini aku persembahkan untuk direnungkan olehku, suami, Tia, Ikhsan dan yang bisa mengambil pelajaran darinya. Tanggapan bisa dikirim ke via emai: mas_fufah@yahoo.com* Hidayatullah.com
Diposting oleh Administrator Jam 11.58.00 1 Komentar
Label: Ramadhan
Sabtu, 08 September 2007
Jelang Ramadhan
Persiapan menyambut tamu agung bulan suci Ramadhan sudah dimulai sejak bulan Sya'ban atau bulan Rajab. Malah para sahabat Rasulullah melakukan persiapan menjelang Ramadhan setengah tahun sebelumnya.
Di milis-milis yang saya ikuti pun banyak berseliweran email-email tentang Ramadhan. Kami saling unjuk kegembiraan dalam menyambut bulan yang dinanti-nantikan itu. Ramadhan, bulan yang penuh rahmat, ampunan lagi penuh kebahagiaan. Ganjaran pahala yang berlipat ganda diberikan kepada orang-orang yang beramal saleh.
Bulan Sya'ban adalah bulan di mana orang-orang sibuk. Sibuk memperbanyak amalan, membenahi diri, sibuk membenahi rumah lalu sibuk mempersiapkan mudik. Ada kesibukan lain lagi, yaitu membayar puasa (qadha) yang belum dilakukan dan memperbanyak puasa sunat.
Anas Bin Malik ra. berkata,' 'Ketika kaum Muslimin memasuki bulan Sya'ban, mereka sibuk membaca Alquran dan mengeluarkan zakat mal untuk membantu fakir miskin yang berpuasa.''
Selama 6 tahun tinggal di Jepang, baru sekali saya dan anak-anak merasakan berpuasa dan berlebaran di tanah air. Selebihnya puasa Ramadhan kami lalui di negeri yang minoritas pemeluk agama Islamnya. Sepi. Sedih dan sendiri. Perasaan itulah yang dominan mewarnai hari-hari pertama berpuasa. Tak ada suara bedug atau adzan Maghrib pertanda saat berbuka. Tak ada suara ramai anak-anak pergi sholat tarawih ke masjid. Apalagi lomba adzan anak-anak, belum ada. Riuh pikuk anak-anak, remaja putri dan ibu-ibu yang memakai mukena, tak ada. Hanya terlihat hilir mudik orang Jepang yang bergegas pulang atau pergi.
Menjelang bulan suci Ramadhan, banyak persiapan yang ingin dilakukan. Kesiapan fisik dan mental dicanangkan, amalan-amalan sunat pun dimemokan, surat-surat Al-Quran yang ingin dihapal pun dituliskan. Selain itu membenahi hapalan surat-surat pendek Al-Quran dan sibuk menuliskannya ke huruf Hiragana, agar anak-anak saya mudah menghapalkannya.
Menjauhkan mata dari pandangan yang diharamkan Allah, menyiapkannya untuk mencermati ayat-ayat Al-Quran.
Menyiapkan telinga untuk mendengarkan murottal Qur'an, untaian merdu ayat-ayat Allah dilantunkan dan menjauhkan telinga dari yang tak layak didengar.
Menyiapkan mulut untuk membaca Al-Quran dan berdzikir serta menjauhi dari berkata-kata tak bermanfaat apalagi membicarakan tentang orang lain, yang dengan itu tidak disukainya.
Menjaga tangan, kaki dan anggota badan agar terhindar dari melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah. Mempersiapkannya supaya tetap sehat dan kuat untuk melakukan ibadah sholat malam.
Menjauhkan hati dari pikiran-pikiran kotor dan prasangka buruk. Memenuhi hati dengan mengingat-NYA, merindukan-NYA dan harapan berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Janji Allah kepada orang-orang yang berpuasa adalah mereka akan bertemu dengan-Nya untuk menerima balasan puasanya itu. Dan janji Allah adalah pasti.
***
Di bulan Ramadhan amalan sunnah dihitung sebagai amalan fardhu, dan amalan fardhu diberi ganjaran 70 kali lipat. Puasa fiisabilillah akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 tahun.
Puasa Ramadhan akan memberi syafaat di yaumil akhir. Terbukanya pintu surga Ar-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa. Juga menghapus dosa-dosa yang lalu.
"Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain," sabda Rasulullah. Siapa yang tak tergiur dengan balasan sebesar itu?
Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib karomallahu wajhah berdiri dan berkata, "Ya Rasulullah, amal apa yang paling utama pada bulan ini?" "Ya Abul Hasan, amal yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla," jawab Nabi Shalallahu 'alaihi wassalam. (HR Ibnu Khuzaiman, Ibnu Hibban dan Baihaqi).
Jelang Ramadhan dengan mengoptimalkan upaya, memotivasi diri melakukan banyak amalan-amalan selama bulan Ramadhan, yang penuh dengan kebaikan.
Menjelang bulan suci penuh berkah dan rahmat, kita ingin berada dalam keadaan hati yang jernih, ikhlas, lapang dan tenang.
Semoga kita jelang Ramadhan dengan kesiapan fisik yang kuat dan hati yang ikhlas, dan mendapatkan malam Lailatur Qadar, amiin.
Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Mohon maaf lahir dan batin.
Wallahu'alam bisshowab.*Eramuslim.com
Diposting oleh Administrator Jam 16.20.00 0 Komentar
Label: Ramadhan



